Notification

×

Kategori Berita

Cari Berita

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

KTT Adalah Warisan Luhur Dari Para Leluhur

Jumat, 11 Februari 2022 | Februari 11, 2022 WIB Last Updated 2022-02-11T14:28:09Z


Morotainews.com - Tual - Sejak sekian lama Kur Tam Tayando alias KTT dianggap telah sirna ditelan waktu namun melalui momentum ini, saya Rahman Rettob ingin menyampaikan kepada khalayak publik bahwa sesungguhnya KTT tidak pernah sirna oleh apapun.


Sebab KTT merupakan warisan luhur dari para leluhur yang memiliki nilai-nilai persatuan, kekeluargaan, serta kebersamaan. Dan nilai-nilai itu akan terus tumbuh dan berkembang di setiap generasi anak pulau.


Saya menggunakan istilah anak pulau bukan hanya karena Kur, Tam dan Tayando merupakan pulau-pulau sendiri dari daerah induk Dullah Utara dan Dullah Selatan. Tapi istilah anak pulau karena memang pada dasarnya KTT lahir dari persamaan nasib sepenanggungan para tetua yang hidup di tengah pulau tanpa merasakan sedikitpun hiruk-pikuk perkotaan.


Memang zaman telah berganti, corak perubahan perlahan-lahan mulai terlihat di masing-masing pulau namun untuk menyamakan dengan wilayah daratan dari daerah administratif Kota Tual masih terasa sangat timpang.


Di daratan anak-anak SD, SMP, dan SMA dengan leluasa sekolah online dari rumah, sedangkan di pulau para siswa harus berbondong-bondong ke tepian pantai untuk bisa mengakses jaringan. Itupun kualitas jaringan masih sangat lemot bagaikan semut mengejar kuda. Hanya rasa letih dan bosan yang didapatkan para siswa karena menunggu kekuatan jaringan yang seakan hanya berjalan di tempat.


Belum lagi, sebagai anak pulau saya turut merasakan bagaimana perihnya berlayar dengan speed boat di musim kemarau tatkala tranportasi umum harus bersepakat dengan tingginya gelombang untuk tidak melaut. Sudah banyak kejadian-kejadian yang bahkan telah memakan korban seperti yang terjadi beberapa waktu lalu di pertengahan Pulau Kur dan Pulau Fadol.


Kejadian itu terlihat sangat mengerikan namun apa mau di kata, kami anak pulau dipaksa bermental baja untuk bisa berdamai dengan lautan dalam kondisi apapun. Bayangkan jika anak pulau tidak melintasi lautan untuk memenuhi kebutuhan pokoknya bagaimana kehidupan bisa berjalan di sana.


Dalam kasus yang berbeda ketika BBM dilarang angkut melalui transportasi umum. Anak pulau terpaksa kembali melintasi ganasnya lautan untuk membawa BBM. Ini bukan pilihan bodoh namun sebaliknya pilihan yang dianggap bisa membunuh ini terpaksa diambil agar bisa menghidupi kebutuhan sebagai orang kepulauan.


Pikirkan saja untuk berpindah dari pulau yang satu ke pulau lainnya membutuhkan BBM, untuk penerangan membutuhkan BBM, untuk melakukan aktivitas nelayan membutuhkan BBM. Dan sejuta aktivitas masyarakat lainnya sangat bergantung pada BBM. Lantas apa yang terjadi jika BBM tidak tersedia di pulau-pulau? Kondisi-kondisi dilematis sekaligus dramatis ini yang dialami anak pulau selama ini.


Dengan menyadari senasib sepenanggungan itulah KTT lahir sebagai jawaban. Organisasi paguyuban ini bukan organisasi politik melainkan organisasi kekeluargaan yang ingin menumbuhkan kembali rasa Ain Ni Ain dan Ha Dela Ha antara sesama orang pulau.


Cerita-cerita di atas jangan dinilai sebagai sebuah tuntutan politik tapi cerita di atas adalah kisah pilu yang kami alami sebagai anak pulau. Cerita tersebut sengaja saya ceritakan agar semua orang bisa mengetahui bahwa di pulau memang tidak ada emas dan permata namun di pulau terdapat masyarakat yang juga merupakan bagian penentu dari lahirnya Kota Tual sebagai daerah otonom yang terpisah dari daerah induk Kabupaten Maluku Tenggara.


Untuk itu selaku keterwakilan rakyat representatif dari pulau-pulau saya ingin mengajak kepada semua orang Kur, Tam, Tayando di mana saja berada agar sejenak merenung dan melepas semua penat serta ego antara satu dan lainnya. Saya rasa sudah saatnya kita kembali membumikan cita-cita para pendahulu yang telah menyatakan kita dalam satu semboyan luhur yaitu KTT.


Mari kita tunaikan semboyan itu dengan ikut berpartisipasi dalam Musyawarah Besar Kerukunan Keluarga Kur Tam Tayando (KTT) yang akan dilaksanakan pada 12-13 Februari 2022 di Kota Tual.


Salam Ain Ni Ain dan Ha Dela Ha.


Rahman Rettob, S.Sos

Representatif Anak Pulau di DPRD Kota Tual.

×
Berita Terbaru Update